Gejala penyakit stroke

Gejala penyakit stroke ~ Gejala stroke pada wanita maupun pria sama saja. Meskipun penyakit stroke sebagian besar diderita oleh orang-orang yang berusia 65 tahun atau lebih, sekitar 10% strokes dialami oleh mereka yang berusia di bawah 45 tahun dan wanita lebih berisiko dibanding pria.

storke pusing

Kenyataannya, menurut American Heart Association, setiap tahun ada lebih dari 100.000 wanita dibawah usia 65 tahun akan mendeita stroke. Artinya, Anda atau seseorang yang Anda kenal bisa berada di titik tersebut lebih cepat dari yang diperkirakan. Info lengkap mengenai penyakit stroke & pengobatannya hubungi 085227167686 (tlp/sms) / 081902927654 (wa)..

Tanda Stroke

Pengobatan Stroke Cara Alami ~ Tanda-tanda dan gejala stroke bervariasi dari orang ke orang, tapi ada petunjuk mudah bagi kita untuk mengenali gejala stroke yang utama dan ini dapat diingat dengan mudah sehingga bisa dilakukan dengan cepat. Disebut dengan metode FAS yang merupakan singkatan dari Face-Arms-Speech.

  • FACE (Wajah) – wajah bisa mengalami lumpuh sebelah, dapat kita amati bahwa ketika dia tersenyum maka sudut bibir hanya mengangkat sebelah atau mata terlihat terkulai. Bedakan ini dengan lumpuh wajah sebelah Bell’s Palsy.
  • ARMS (Lengan) – Mintalah seseorang yang dicurigai stroke untuk mengangkat tangannya. Stroke dicrugia ketika dia tidak mampu mengangkat salah satu atau kedua lengan karena lemah, disamping itu lengan juga bisa mengalami mati rasa, bisa juga mengalami kesemutan.
  • SPEECH (Bicara) – Bicara cadel atau pelo, atau tidak dapat berbicara sama sekali meski terlihat sadar.

Setiap detik sangatlah berharga, jadi sekarang saatnya menghubungi atau membawa pasien ke UGD sesegera mungkin, ketika melihat salah satu tanda-tanda atau gejala-gejala stroke di atas.

Namun terkadang serangan stroke dapat menyebabkan gejala yang berbeda. Gejala dan tanda-tanda lainnya yang perlu juga kita ketahui termasuk:

  • Lumpuh total pada salah satu sisi tubuh.
  • Tiba-tiba penglihatan kabur atau bahkan tidak bisa melihat.
  • Rasa bingung/kesulitan memahami apa yang orang katakan.
  • Gangguan keseimbangan dan koordinasi.
  • Kesulitan menelan (disfagia) bukan sakit menelan.
  • Penurunan kesadaran.
  • Sakit kepala yang muncul secara tiba-tiba dan sangat parah.

Apabila gejala-gejala yang kami sebutkan di atas hilang dengan cepat (dalam waktu kurang dari 24 jam), maka hal itu bukanlah stroke, melainkan transient ischemic attack (TIA) atau stroke ringan. Namun kondisi ini bisa menjadi risiko untuk terkena stroke yang sebenarnya dalam waktu dekat.

Jenis Penyakit Stroke

Terapi Kelumpuhan Akibat Stroke ~ Sebelumnya, kita juga harus mengenal jenis-jenis stroke berdasarkan mekanisme terjadinya sebagai berikut:

  • Stroke Iskemik. Merupakan jenis stroke yang paling banyak terjadi, stroke iskemik terjadi bila ada sumbatan pada pembuluh darah yang membawa darah ke otak. Seringkali, hal ini disebakan oleh gumpalan darah yang berasal dari mana saja, misalnya simpanan lemak di arteri bisa pecah, mengalir ke otak, dan menyebabkan pembekuan darah. Terkadang bekuan darah berasal dari jantung akibat denyut jantung tidak teratur, yang disebut atrial fibrillation.
  • Stroke Hemoragik. Terjadi bila pembuluh darah di otak pecah dan terjadilah pendarahan otak. Memang jenis ini lebih jarang terjadi, tetapi menyebabkan kondisi yang lebih serius. Tekanan darah tinggi yang tidak terkontrol dan menggunakan obat pengencer darah secara berlebihan bisa menyebabkan stroke hemoragik.
  • Transient ischemic attack (TIA). Dalam bahasa awam dikenal dengan “mini stroke” atau stroke ringan dimana pembuluh darah otak mengalami penyumbatan yang hanya sementara. Meskipun tidak menyebabkan kerusakan otak permanen, stroke ringan dapat menyebabkan gejala stroke yang bisa bertahan menit atau jam dan bisa menjadi ancaman stroke yang sesungguhnya di kemudian hari.

Faktor risiko utama penyebab stroke meliputi:

  • Tekanan darah tinggi. Hipertensi merupakan faktor risiko utama untuk stroke. Tekanan darah dianggap tinggi jika sama dengan atau di atas 140/90 (mmHg). Jika Anda memiliki diabetes atau penyakit ginjal kronis, maka tekanan darah 130/80 mmHg atau lebih sudah dianggap tinggi.
  • Diabetes. Diabetes adalah penyakit di mana kadar gula darah selalu tinggi karena tubuh tidak membuat cukup insulin atau tidak menggunakan insulin dengan benar. Insulin adalah hormon yang membantu memindahkan gula darah ke dalam sel untuk sumber energi.
  • Penyakit jantung. Penyakit jantung koroner, kardiomiopati, gagal jantung, dan fibrilasi atrium dapat menyebabkan penggumpalan darah yang dapat menyebabkan stroke.
  • Merokok. Merokok dapat merusak pembuluh darah dan meningkatkan tekanan darah. Merokok juga dapat mengurangi jumlah oksigen yang mencapai jaringan tubuh. Paparan asap rokok pada perokok pasif juga dapat merusak pembuluh darah.
  • Usia dan jenis kelamin. Risiko stroke meningkat seiring dengan bertambahnya usia. Di usia muda, laki-laki lebih mungkin dibandingkan perempuan untuk terkena stroke. Namun, perempuan lebih mungkin untuk meninggal akibat stroke. Wanita yang mengkonsumsi pil KB juga lebih berisiko sedikit lebih tinggi.
  • Riwayat pribadi atau keluarga mengalami stroke atau TIA. Jika satu sudara kandung; ayah, ibu, paman, bibi dan kerabat lainnya memiliki riwayat stroke, atau sebelumnya Anda sendiri pernah mengalamii stroke ringan, maka Anda berada dalam resiko yang lebih tinggi di kemudian hari.
  • Aneurisma otak atau malformasi arteri vena (AVMs). Aneurisma merupakan tonjolan seperti balon di arteri yang bisa meregang dan meledak. AVMs merupakan kondisi bawaan dimana arteri terbentuk tek sempurna sehingga mudah rusak dan bisa pecah. Tetapi ini sulit dideteksi dan sering tidak terdiagnosis sampai mereka pecah.

Faktor risiko lain penyebab stroke yang bisa Anda ubah, termasuk:

  • Alkohol dan penggunaan narkoba, termasuk kokain, amfetamin, dan obat-obatan lainnya Kondisi medis tertentu, seperti penyakit anemia sel sabit, vaskulitis (radang pembuluh darah), dan gangguan perdarahan
  • Kurangnya aktivitas fisik
  • Kegemukan dan Obesitas
  • Stres dan depresi
  • Kadar kolesterol tinggi
  • Diet yang tidak sehat
  • Penggunaan obat Nonsteroid anti-inflammatory drugs (NSAID) yang merupakan obat anti nyeri dan peradangan, selain aspirin, dapat meningkatkan risiko serangan jantung atau stroke, terutama pada pasien yang telah mengalami serangan jantung atau operasi bypass jantung sebelumnya.

Selain menerapkan gaya hidup sehat, mencegah atau mengendalikan penyebab stroke terkadang memerlukan obat-obatan yang rutin dikonsumsi, seperti pada penyakit darah tinggi dan diabetes, jadi pastikan Anda mematuhi apa yang dianjurkan oleh dokter Anda.

Konsultasi gratis
WA : 0857-1558-5781
CALL/SMS : 0851-3040-6868
BBM : 7E6C5F4D